Jumat, 02 Mei 2014

Tugas Softskill2 Ilmu Budaya Dasar



Aninda Bestari
1IA24
51413048

Tanggung Jawab Terhadap Diri Sendiri

            Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Tanggung jawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran seseorang akan dirinya untuk memenuhi kewajubannya sendiri dengan mengembangkan kepribadian orang tersebut. Bagaimana perkembangan kepribadian  seseorang terbentuk dari bagaimana tanggung jawab orang tersebut terhadap dirinya sendiri. Contohnya saat kita berjalan kaki sambil menggunakan hp lalu tanpa sengaja kita tersandung batu dan terjatuh, kaki kita patah dan dokter menyarankan untuk beristirahat dirumah selama 2 minggu. Istirahat dirumah tersebut merupakan pertanggungjawaban atas apa yang telah kita lakukan terhadap diri sendiri. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, akan tetapi manusia juga makhluk pribadi yang mengalami perkembangan kepribadian sendiri. Saat manusia mengembangkan kepribadiannya, maka saat itulah manusia tidak luput dari kesalahan. Oleh karena itu diperlukan kesadaran akan tanggung jawab terhadap diri sendiri agar manusia memiliki aturan-aturan dan tidak terjerumus dalam perbuatan yang salah.

Minggu, 13 April 2014

Tugas Softskill 1 Ilmu Budaya Dasar



Aninda Bestari
1 IA 24
51413048

Pandangan Mengenai Kasus Pembunuhan Ade Sara

            Pada bulan Maret 2014 lalu masyarakat sempat dikejutkan oleh berita mengenai penemuan mayat di pinggir Tol Bintara, Kota Bekasi.  Setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut oleh pihak kepolisian, diketahui bahwa korban berjenis kelamin perempuan tersebut bernama Ade Sara Angelina Suroto. Ade Sara yang berumur 19 tahun tercatat sebagai seorang mahasiswi semester 2 di Universitas Bunda Mulia. Dari hasil penyelidikan polisi, diketahui bahwa tersangka pembunuhan Ade Sara tak lain adalah mantan kekasih korban bernama Ahmad Imam Al Hafidh (19). Aksi Al Hafidh dilakukan bersama kekasih barunya bernama Assyfa (19). Tersangka nekat melakukan pembunuhan karena merasa dendam dan kecewa korban tak mau dihubungi serta tak mau diajak bertemu.
             Ironis memang jika cinta menjadi latar belakang tersangka untuk melakukan kekerasan. Banyak faktor yang menjadi pemicu terjadinya kekerasan antara lain longgarnya kontrol keluarga dan rendahnya pengetahuan agama. Masalah- masalah emosional yang dihadapi para remaja yang kurang diperhatikan oleh orang tua pun dapat menjadi pemicu bagi individu yang bersangkutan dimasa yang akan datang. Seharusnya keluarga menjadi tempat berlindung atau bertukar pikiran bagi para remaja yang pada umumnya masih memiliki emosi yang belum stabil. Pergaulan juga berpengaruh terhadap psikologis remaja, biasanya para remaja akan mencari lingkungan yang bisa menerima mereka. Tetapi apa jadinya jika lingkungan yang menerima mereka justru akan menjuruskan mereka kepada perbuatan yang salah. Oleh karena itu, para orang tua sebaiknya meluangkan waktu kepada anak-anaknya untuk bertukar pikiran ataupun mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa agar terhindar dari perbuatan yang dapat menjerumuskan masa depan sang anak. Dengan perhatian yang lebih dari orang tua, pengetahuan agama yang cukup, maka para remaja akan selalu ingat oleh orang tua dan Allah Swt. sehingga mereka akan selalu berada di ajalan yang benar dan terhindar dari tindak kekerasan. Itulah pendapat saya mengenai kasus pembunuhan Ade Sara, pada akhirnya orang tua lah yang menjadi faktor penentu apa yang kelak akan dilakukan sang anak di kemudian hari.

Selasa, 18 Februari 2014

Tugas Softskill



Tugas Esai Softskill UTS dan UAS
Aninda Bestari
1IA24/51413048

Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja

Pada saat ini, dapat banyak kita temukan perilaku pergaulan bebas yang menyimpang yang terjadi dikalangan remaja. Entah karena masuknya budaya barat yang tidak dapat kita saring secara tepat atau karena mulai hilangnya adat istiadat yang ada dalam budaya Indonesia. Budaya Indonesia yang terkenal akan sopan santunnya  perlahan-lahan seakan lenyap dimakan zaman.
Saat ini kita dapat dengan mudah melihat pergaulan menyimpang para remaja ditempat-tempat umum seperti taman kota, pusat perbelanjaan, restoran-restoran, ataupun dipinngir jalan. Pasangan muda-mudi tersebut seakan tidak malu memamerkan kasih sayang mereka dimuka umum. Banyak juga yang masih memakai seragam putih abu-abu sedang asik berpacaran ditempat-tempat tersebut. Tak jarang kita dapat melihat mereka sedang berpelukan, bahkan berciuman tanpa mempedulikan lingkungan sekitar. Miris memang jika kita melihat perilaku yang tidak seharusnya dilakukan oleh mereka yang terbilang masih dibawah umur. Hal yang lebih mengejutkan lagi, berdasarkan hasil survei dari BKKBN menyatakan bahwa separuh dari perempuan lajang di kota besar khususnya Jabodetabek telah kehilangan keperawanan, melakukan seks bebas pranikah, dan tak sedikit pula yang hamil diluar nikah. Rentang usia yang melakukan seks pranikah tersebut berkisar antara 13-18 tahun. Ditambah lagi saat ini alat kontrasepsi seperti kondom telah beredar luas di banyak minimarket dan dapat dengan mudah dibeli. Hal ini dapat disalah artikan oleh para remaja. Mereka akan menganggap bahwa seks bebas merupakan sesuatu yang sudah biasa terjadi sehingga tanpa berpikir panjang mereka akan dengan mudahnya menerapkan perilaku seks bebas yang menyimpang.
Selama ini banyak orang berpikiran bahwa pendidikan seks merupakan hal yang tabu, padahal hal tersebut salah. Pendidikan seks sejak dini merupakan salah satu langkah awal untuk mencegah perilaku seks yang menyimpang. Para remaja perlu diberi pemahaman dari orang terdekatnya tentang batasan-batasan dalam bergaul. Pembekalan iman yang baik dan pehaman religi juga dapat menghindarkan sang anak dari perilau seks bebas karena mereka akan tau mana yang benar dan mana yang salah sehingga prinsip mereka tidak akan mudah digoyangkan. Hal tersebut  merupakan salah satu cara untuk menghindarkan para remaja dari pergaulan bebas. Namun, semua kembali kepada diri kita sendiri. Ingatlah bahwa kita sebagai remaja merupakan penerus bangsa, ingatlah bahwa kita tidak ingin membuat kedua orang tua kita kecewa, dan tetaplah berpegang teguh pada ajaran agama masing-masing agar keimanan kita tidak dapat dengan mudah tergoyangkan karena iman adalah pondasi yang terbaik untuk menolak pergaulan bebas.